(sebuah catatan dari diskusi buku kumpulan cerpen ”Tukang Bunga & Burung Gagak”)
MANAKAH yang lebih penting, dunia yang dicerminkan cerpen, atau cerpen sebagai cermin itu sendiri?
Pertanyaan itu dilontarkan Seno Gumira Adjidarma (SGA) yang bertindak sebagai narasumber dalam diskusi buku kumpulan cerpen “Tukang Bunga & Burung Gagak (TBBG)” di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, Taman Ismail Marzuki Jakarta, Sabtu 13 Maret 2010.
Sayang, pertanyaan menarik itu hanya menguar di udara. Pengunjung diskusi tampaknya tidak terlalu tertarik menyoal hal itu. Mereka lebih tertarik pada hal-hal yang masih bersifat elementer: bagaimana proses kreatif seorang penulis fiksi, apa yang ingin dicapai penulis melalui karya-karyanya, dan seterusnya. Pertanyaan-pertanyaan normatif, yang tentu saja akan memperoleh jawaban-jawaban yang normatif pula.
| Posts |
![]() |
Last Comment |
|---|---|---|
| Saya Tergila-gila pada Traktor | 5 | by GHANI on 2010-09-03 04:27:45 |
| LIPI-Bumiputera Gelar Kompetisi Ilmiah Remaja dan Guru | 3 | by vero on 2010-08-31 06:22:21 |
| Tentang Saya | 150 | by Yayan Ahdiat on 2010-08-30 00:42:18 |
| gerimis malam | 5 | by Vira on 2010-08-28 06:29:56 |
| tukang sayur itu kini tidak jualan | 1 | by sinta on 2010-08-26 08:32:05 |
Cerpen Ryana Mustamin
Bandara Cengkareng - Jakarta, 22 tahun silam…
Pagi masih serupa pusara waktu. Kedap, dingin, dan ngelangut. Hanya sedikit denyut di depan ruang tunggu keberangkatan: beberapa orang portir yang belum sepenuhnya menghimpun semangat, seorang backpacker yang lelap di bangku panjang, dan sejumlah mobil yang gigil dilindas gerimis.
RAMADHAN telah usai. Musim liburan juga telah selesai. Kini masyarakat kembali menjemput rutinitas. Selain harapan tentang ketaqwaan yang meningkat seusai menjalani puasa sebulan penuh, adakah hal lain yang tersisa?
